sabar menanti

harap jundy yg kn hadir ^^

Tidak penting siapa tokohnya, yang penting timnya


Begitulah dakwah ini mengajarkan kita, begitulah jamaah ini memproses pola pikir kita. Kita tak pernah mengenal tokoh dalam dakwah ini, kita hanya mengenal bahwa jika ingin kokoh, maka bersatulah, saling menolonglah.

Tim, berasal dari perorangan, sehingga ketika tim sudah kuat, dapat dijamin bahwa orangnya juga kuat, jika tim lemah, maka pastilah orangnya lemah. Tapi belum tentu untuk sebaliknya, betapa banyak orang cerdas yang terjebak dalam komunitas orang tak berakal, sehingga kecerdasannya pun menjadi musuhnya sendiri.

Orang cerdas, komunitas sehat, dan tim hebat. Ini yang ingin kita buat dalam jamaah ini, sehingga tidak ada kerja individu untuk kepentingan individu, yang ada hanya kerja bersama, untuk kepentingan bersama, berbuat seorang, untuk keuntungan banyak orang.

Lihat saja dalam pemilihan ketua BEM/Presiden BEM yang ada di kampus, hampir semua tokoh tadi sebelumnya tak bernilai apa apa, lalu dia dibesarkan oleh kebersamaan jamaahnya, tatkala keputusan bahwa dia harus menjadi pemimpin, maka serentak semua orang dalam jamaah tadi akan mengusungnya, begitu orang yang di tunjuk tadi.

Tidak penting siapa tokohnya, yang penting timnya, itu ungkapan anis matta, sekjend PKS yang sangat saya kagumi pemikiran dan retorikanya. Kenapa anis mengatakan hal tadi? karena di PKS nyaris tak tokoh untuk membangunnya, tapi PKS sendirilah yang membangun tokoh tadi.

Lihat presiden pertama PK (nama dulu PKS), Nurmahmudi Ismail, sekarang menjadi walikota depok, hampir tak dikenal oleh rakyat tatkala awal dia memimpin partai anak muda, lalu ketika dia menjadi menteri di era gusdur, lalu diapun mundur, dan digantikan oleh Hidayat Nurwahid.

Seperti nurmahmudi, hidayat juga tak terkenal, tapi ketika dia memimpin partai itu, dia membawa PKS dari 1,4 % menjadi 8 %. Sebuah peningkatan yang sangat dahsyat menyeret mata publik ke arahnya dan tentunya juga partainya.

Naik menjadi ketua MPR, hidayat mundur dan digantikan oleh Tifatul sembiring, tapi siapa yang mengenal tifatul sebelumnya? nyaris nasional tak mengenalnya, tapi lihat sekarang, lebih dari setengah PILKADA di Indonesia yang PKS ikuti, PKS lahir sebagai pemenang.

Itulah kerja tim, bukan tokoh, sebab tokoh hanya legalitas saja. Dan jika kita bandingkan dengan keberadaan partai lain, lihat saja Partai Demokrat, menonjolkan SBY, PDI P dengan Megawatinya, dan Golkar yang lucunya dulu akan membuang keanggotaan Yusuf Kalla karena maju sebagai Cawapres menjadi Ketua Umumnya.

Masih banyak lagi partai yang memang mengandalkan tokoh, tapi ketahuilah bahwa partai atau komunitas seperti itu tidak akan bertahan lama, sebab tokohlah yang dikedepankan, bukan tim.

Tidak penting siapa tokohnya, yang penting timnya

Juli 31, 2008 - Posted by | Kajian Siyasah

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: