sabar menanti

harap jundy yg kn hadir ^^

Sastra itu kalbu, bukan harta.


Sesaat saya membaca tulisan di republika yang memuat wawancara wartawan koran terbesar di Indonesia itu dengan penulis novel pembangun jiwa Ayat-Ayat Cinta.

Ketika saya mengikuti setiap kata yang tertulis di republika online saya merasakan ada sebuah goresan jiwa disana, tak sekedar retorika penguasa, tapi lebih dalam yakni bahasa cinta pemilik jiwa yang kekuatan ubahnya sangat besar.

Kekuatannya untuk menanam saham untuk perubahan negeri jelas sebuah proyek raksasa yang sedang diikutinya, karena terkadang orang hanya berpikir bagaimana membina rumah tangga dengan anak cucu sukses tujuh turunan. Ya sekedar dia dan lingkungan mahramnya.

Tapi kang abik mendatangkan sebuah ungkapan sastra yang banyak orang sering terpengaruh olehnya. Kehadiran novel ayat-ayat cinta yang sangat fenomenal membuat saya berfikit bahwa sastra adalah bahasa kalbu, sastra adalah kemurnian jiwa dan karena sastra adalah jiwa.

Beberapa karya kang abik saya ikuti dengan seksama, ceritanya nyaris sama, cinta dan berakhir bahagia, dan ending kisahnya juga mirip, si cowok yang miskin mendapatkan pasangan yang kaya. Jika kita fahami dengan betul saya kira kang abik melahirkan alur cerita atau kisah cerita yang itu itu saja, tapi yang susah untuk dikatakan itu itu saja tadi adalah kandungan maknanya ibarat orang minum air laut, jika hanya satu buku kang abik  dibaca, maka ia akan mengajak kita untuk terus membaca karya-karyanya.

Ketika cinta bertasbih, dalam mihrab cinta dan lainnya adalah alternatif total terhadap sastra indonesia yang dahulu, kita akui, terserah siapa saja boleh senang atau tidak, sastra indonesia saya kira sudah mulai menunjukan perubahan yang signifikan.

Jika kita lihat di toko-toko buku terkenal, maka akan cukup sulit bagi kita mencari cerpet, novel atau sejenisnya yang tidak mengandung nuansa islami, ini bukan sebuah serangan besar-besar peradaban islam kepada peradaban sekarang, tapi ini adalah kesadaran kolektif kaum sastra indonesia untuk merubah tatanan kesastraanya.

Boleh saja sastrawan itu mendapatkan harta dari karyanya, tapi siapa yang akan memberikannya royalti ketika pembaca tidak membelinya, maka perubahan yang mengarah kepada sastra islam tidak diciptakan oleh penulisnya saja, tapi komunitas rakyat indonesia terutama pecinta sastra sekarang sudah paham bahwa islam tak sekedar ritual ibadah, tapi juga sastra dan negara.

Maka sudah saatnya sastrawan indonesia yang laen, mari lihat realitas yang ada, cukupkan saja melahirkan karya sastra yang sekedar mengobral kata imajinatif tak bermakna, jakarta undercover, ada apa dengan cinta, dan karya-karya sastra yang sejenisnya sudah saat tutup mesin produksi, karena peminat sastra indonesia sudah berpindah haluan.

Selamat datang sastra sejati, selamat tinggal sastra imajinatif tak berarti.

Februari 7, 2008 - Posted by | Buah Pemikiran

1 Komentar »

  1. Yak, selamat datang sastra sejati. Sastra yang mencerahkan dan menginspirasi… Sastra yang sarat kandungan dakwah.

    Komentar oleh Cabe Rawit | Februari 7, 2008 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: