sabar menanti

harap jundy yg kn hadir ^^

Lihat, Baca dan Rasakan


Bismillahirrahmaanirrahiim…

Selalu ada Allah, RasulNya dan Islam dalam hidupku.
Selalu ada dua pintu syurga, yang menyayangiku apa adanya.
Selalu ada diriku yang memikirkan dirimu, entah siapa.
Sosok yang akan mengisi hidupku

Kapan Allah akan mempertemukan ku dengannya?
Bagaikan sebuah misteri yang harus ku pecahkan.

***

Dear akhi, sudah cukup bahagiakah engkau disana?
Berhasilkah engkau mengisi hatimu dengan segumpal cinta?
selamat, akhi. Karena kau berhasil menemukannya tanpa bantuan ku.

Akhi, sebenarnya aku tidak cukup bahagia disini.
Karena aku belum mengetahui apa kesungguhan makna bahagia.
Aneh memang, tapi itu kenyataan yang terjadi padaku.

Akhi, aku memiliki dua pintu syurga yang harus ku perlakukan dengan keadaan terbaik, hingga habis masaku.
Selalu saja terpikirkan dalam benakku, mampukan ku bahagiakan mereka, dengan keadaanku seperti ini?

Aku terbatas, akhi.
Sedangkan rasa sayang mereka terhadapku tak berbatas.
Karena ada darahnya dalam diriku, dan darahku dalam dirinya.
Ada bagian hidupnya yang bersemayam dalam jasadku.

Akhi, banyak hal yang sering menggangu jiwaku belakangan ini.
Dan hal itu membuatku takut, jika Ia memanggilku dengan segera.
Aku mengkhawatirkan ibadah yang ku lakukan dalam usiaku.
Sedangkan kekhawatiran lainnya, adalah gundukkan dosa-dosa yang timbul karena kedurhakaanku kepada kedua malaikatku, dan gundukkan lainnya yang terbentuk akibat kebodohanku sehingga menyakitkan hati hambaNya yang lain.

***

Aku memang payah. Tidak seperti yang kau bayangkan, akhi.
Dalam jiwaku terdapat banyak jiwa yang akupun belum mengenalnya dengan baik.
Hingga saat ini, saat penaku menari diatas beberapa carik kertas, jiwa lainnya meneriaki untuk segera terlelap dan memanjakkan jiwa lainku.

Akhi, aku tahu bahwa Allah itu maha adil.
Sungguh aku tidak meragukan kebesaranNya.
Aku hanya kebingungan untuk mencari hilangnya sebagian jiwaku.
Entah aku yang lupa meletakkannya, ataukah Ia yang sengaja menyembunyikan pasangan jiwaku.
Aku kehilangan keaslian diriku, entah dimana.

***

Akhi, tahukah engkau tujuanku menulis ratusan kata yang tersusun rapih dihadapmu ini?
Rangkaian kata yang terpindai dalam matamu adalah gejolak jiwaku.
Gejolak perasaan seorang calon_akhwat.
Seorang hamba yang mencoba untuk bertarung dengan sisi gelap yang sedang merasuki jiwanya.

Akhi, aku takut hidup dalam kungkungan kegelisahan dan rasa was-was.
Karena aku tahu, semua berawal dari bisikkan kegelapan yang mengajakku untuk tenggelam didalamnya.
Aku ingin berubah, akhi.

Yang ku butuhkan hanyalah kesungguhan hatiku.
Aku harus membuktikan dan membuatnya menjadi nyata , dengan jiwaku sebagai jaminan, jadi tolong, jangan coba untuk membantuku.

Akhi, kira-kira berapa lama lagi usiaku?
Cukupkah aku melengkapi genapnya namaku?
Mampukah aku menjadi akhwat seutuhnya?
Apa mungkin menurutmu aku sudah menjadi akhwat sejati?

***

akhi, apakah peninggalanku kelak kepada jasadku yang ku tinggalkan?
Aku ingin pergi dalam keadaan terbaik, akhi.
Keadaan mulia, dengan semburat senyum tergaris di bibirku.

Akhi , mampukah kau menghitung berapa banyak jiwa yang tersakiti dengan kehadiranku?
Atau banyaknya jiwa yang memandangku dengan sebelah mata dan membenciku karena suatu alasan yang tidak ku mengerti.
Mungkinkah keberadaanku dalam lingkup kehidupan mereka, bukanlah hal yang diharapkan.

Ini kali kedua aku mengungkapkan bahwa aku terbatas.
Ya, aku terbatas, akhi.

Dalam lingkungan yang kurang bisa menerima kehadiranku, aku dituntut untuk berbaur dengan gemerlapnya kehidupan dunia.
Sedangkan aku paham, bahwa gemerlap dan hingar bingar dunia hanyalah sebuah kefanaan.
Maka aku menolak seruan mereka, dengan cara terhalus yang ku bisa.
Namun mereka membenciku dan menyumpah serapahi ku.

Akhi, mungkin banyak yang merasakan hidupnya pedih karena berbagai cobaan yang Allah berikan kepadanya.
Mungkin jika engkau salah mengartikan tulisanku ini, kau menganggapku seperti mereka.
Tidak, akhi. Aku bersyukur atas segala ujian yang diberikanNya kepadaku.
Karena ini adalah sebuah bukti, bahwa Allah masih mencintaiku dengan memberikan rasa sabar yang menurut sebagian orang, ia terbatas.

Akhi, banyak yang mengkritikku karena kelemahan diriku.
Mungkin mereka menganggapku terlalu pasrah menghadapi perlakuan buruk yang mereka lakukan kepadaku.
Atau mungkin, mereka senang mempermainkan perasaan dan jiwaku.
Entah, akhi. Hanya mereka yang mengetahui jawabnya.

Tapi aku memiliki jawaban sendiri.
Aku tahu, Allah akan memberikan perlakuan yang seimbang dengan perlakuan yang ku kerjakan kepada hambaNya yang lain.
Aku mengijinkan mereka untuk menyakitiku, akhi.
Sebagai ganjaran perbuatan yang pernah ku lakukan dahulu kala.
Akhi, sekarang aku tahu rasanya menjadi mereka, yang dulu pernah tersakiti karena ke-ego-an ku.
Apakah kau tahu apa yang kulakukan menghadapi tekanan hati yang kurasakan?

Aku hanya bisa menangis, akhi.
Memohonkan ampun atas tindakanku terdahulu, dan memohonkah ampun untuk perlakuan mereka kepadaku.
Kemudian, aku memohon ampunan kembali kepada Allah, karena diriku sudah menjadi media bagi mereka untuk melakukan sebuah dosa.

***
sekarang, aku sedang menangis, akhi.
Menangisi diriku. Menangisi dosaku. Dan menangisi hilangnya waktu yang tersiakan dari usiaku.
Aku sudah merasakan hidup dan kenikmatan selama sembilanbelas tahun.
Tentunya aku sudah melakukan dosa dalam beberapa tahun, hingga saat ini.
Mungkin jika Allah menunjukkan banyaknya dosaku dihadapanku, aku sudah lama pergi.
Terkejut lalu mati melihat banyaknya kesalahan yang ku lakukan.

***
Saat ini, butiran airmata meluncur deras diatas pipiku.
Aku sedang mendengarkan sesuatu, akhi.
Sebuah teguran tentang kematian yang disenandungkan oleh mereka.

Mati pasti menghampiri, meskipun kita sembunyi.
Tiada yang melindungi.
Persis seperti itukah gambaran awal dari kehidupan yang sesungguhnya?
Ya, aku percaya.
Entah apa yang harus ku lakukan sebelum keadaan itu melanda diriku.

***

akhi, tolong sampaikan kepada kedua pintu syurgaku, kepada para malaikatku.
Aku mohonkan maaf atas tindakkanku yang telah menyakiti hati mereka.
Terlalu banyak kata ‘ah’ yang ku lontarkan kepadanya.
Aku mohonkan maaf dengan sejuta ketulusan kepadamu, Ayah dan Ibuku tercinta.

Untuk mereka yang tersakiti dan menyakiti diriku, maafkan semua kesalahan yang telah ku perbuat kepada mu.
Atas kehinaan perilaku dan keburukan ucapan yang kulakukan dengan sadar maupun tidak.
Aku mohon, dengan kerendahan hati, permudahlah aku dalam melaksanakan proses penghambaan kepada Tuhan ku, proses kematian yang sangat mulia, tanpa jeritan kesakitan dan ketakutan, dengan maaf darimu.

***

Akhi, bagaimana tanggapanmu mengenai diriku, setelah membaca semua ini?
Cukup burukkah?
Aku terlalu buruk untuk dikagumi. Terlalu hina, akhi.
Jadi tolong, jangan biarkan rasa itu tumbuh dalam jiwa mu. Jangan biarkan ia mengarat. Sehingga memacu dirimu untuk mendapatkannya.

Inilah aku,akhi.
Dengan berbagai lapisan membungkus jiwaku yang sesungguhnya.
Seperti ia yang mengatakan bahwa aku adalah bunga dengan benteng pertahanan terkuat yang pernah ia hadapi.
Seakan aku kuat, sesungguhnya aku rapuh,akhi.

***

entah apalagi yang harus ku ungkapkan disini.
Terimakasih sudah menyimak isi hatiku, yang mungkin tidak terlalu penting untukmu.
Terimakasih atas waktu yang telah kau berikan untuk sekedar berbagi, wahai akhi imajinasi…

Dihadapan tirai jingga, Depok 22:05, 9 desember 2007.

saya dapet dari blog calonakhwat.blogspot.com, keren abis isinya.

Januari 3, 2008 - Posted by | Buah Pemikiran

5 Komentar »

  1. assalamu’alaykum.wr.wb
    terimakasih atas apresiasi akh dolla terhadap tulisan saya
    sampai dipajang begitu🙂
    oia, salam kenal dari saya
    silahkan mampir lagi ke blog saya

    wassalamu’alaykum.wr.wb

    Komentar oleh calon_akhwat | Juli 28, 2008 | Balas

  2. assalam`alaikum.wr.wb
    terima kasih atas aspresiasi nya….
    salam kenal dari saya (KOSASIH)

    Komentar oleh kosasih | April 6, 2010 | Balas

    • salam kenal juga

      Komentar oleh Dolla Indra | April 6, 2010 | Balas

      • bagaimana cara dapat accses situsnya

        Komentar oleh kis | Mei 17, 2011

  3. mana situsnya?

    Komentar oleh kis | Mei 17, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: